[BEGIN TRANSMISSION]

‎Jam sudah menunjukkan pukul 02.12 dini hari. Di layar laptop, yang bodinya agak berminyak dan juga agak renyek. Tapi jangan salah “jeroannya” sudah saya upgrade, seperti SSDnya yang kadang connect kadang enggak. Nah berhubung juga harga RAM lagi naik, jadi belum sempet beli…

Di depan mata saya kursor di baris VS-Code itu berkedip-kedip. Statis.

Seolah mengejek saya yang sejak tadi stuck mencari di mana letak bug-nya. ‎Di dalam kamar, rumah sunyi.

Bapak mungkin sudah tidur lelap, mengumpulkan tenaga untuk mengajar besok pagi. Gajinya kisaran satu digitan, empat anak laki-laki, dan saya anak yang ada di tengah-tengah kekacauan demografi kecil ini. ‎

Kalau ditanya apa arti kehidupan dari sudut pandang saya, rasanya seperti mencoba melatih model Machine Learning dengan dataset yang kotor dan tidak lengkap. Penuh dengan noise, bias, dan sering kali hasil prediksinya meleset jauh.

Menjadi saya itu posisinya canggung. Kami ini, meminjam istilah sosiologi, adalah kelas menengah yang “rentan”. Tidak cukup miskin untuk dapat prioritas bantuan sosial, tapi jelas tidak cukup kaya untuk bisa santai-santai “healing” ke Bali setiap semester.

‎Saya sering memandang dua motor di ruang garasi rumah kami, yang tentunya juga berfungsi untuk menyambut tamu. Dua motor untuk bapak, tiga anak laki-laki dan satu ibu yang mobilitasnya tinggi. Menjdai sebuah pelajaran manajemen sumber daya paling brutal yang pernah saya pelajari, hmmm mungkin jauh lebih rumit dari mata kuliah Statistika.

Siapa yang butuh sekarang? Siapa yang urgensinya paling tinggi? Di situ ego harus mati. Di situ saya belajar bahwa hidup itu bukan soal kepemilikan, tapi soal akses dan negosiasi. ‎

Kadang, saat sedang rapat di organisasi atau mengerjakan tugas kuliah di kampus, saya merasa gagah. Tapi begitu pulang, melihat cat tembok dan sticker rumah yang mulai mengelupas atau mendengar diskusi Bapak dan Ibu soal uang belanja maupun UKT, saya sada bahwa aktivisme saya di kampus mungkin adalah sebuah pelarian.

Saya sibuk mengurus “politik kampus” karena politik dapur rumah saya terlalu menakutkan untuk dihadapi sendirian.

‎Saya belajar Mekatronika dan AI. Saya diajarkan bahwa segala sesuatu ada logikanya. Input, Process, Output. Tapi hidup saya penuh dengan variabel tersembunyi. ‎Saya cemas.

Cemas sekali. ‎Ada ketakutan purba di kepala saya: “Bagaimana kalau setelah semua begadang ini, setelah semua organisasi yang saya ikuti, setelah semua buku filsafat yang saya lahap… saya tetap gagal?” ‎

Saya melihat teman-teman yang privilese-nya seperti jalan tol. Laptop gaming terbaru, referensi mereka kursus berbayar dolar. Sementara saya? Saya adalah penganut “kaum mendang-mending” yang mengandalkan open source dan tutorial India di YouTube. ‎Apakah ini tidak adil?

Entahlah. Mungkin ini yang disebut Stoikisme jalanan. Saya tidak bisa memilih orang tua saya, saya tidak bisa memilih start ekonomi saya. Yang bisa saya kendalikan hanyalah seberapa keras saya menekan tombol keyboard malam ini dan seberapa tajam saya melatih logika saya.

Seringkali, di sela-sela mengedit video atau mendesain poster, saya merenung. Jangan-jangan, arti hidup itu sesederhana proses debugging. ‎Kita sering panik saat ada error, saat sakit hati, saat ide ditolak dosen, saat dompet menipis. Kita menganggap itu kegagalan sistem.

Padahal, bagi seorang programmer, error adalah petunjuk. Error memberi tahu kita bagian mana yang perlu diperbaiki. ‎Sakit hati mengajarkan saya bahwa ekspektasi saya terlalu tinggi (variabelnya overflow). ‎Kelelahan di organisasi mengajarkan saya batas fisik (sistem overheat). ‎Kekurangan uang mengajarkan saya efisiensi memori. ‎

Jadi, mungkin hidup bagi anak guru PNS seperti saya ini bukan tentang menjadi “sempurna” atau menjadi “kaya raya” dalam semalam. Narasi kosong yang sering diucapkan oleh para motivator. ‎Bagi saya, hidup adalah upaya terus-menerus untuk memperkecil loss function. Kita tidak akan pernah mencapai akurasi 100%. Tidak akan pernah, mungkin dari sudut pandang saya sendiri.

Kita hanya berusaha agar hari ini, error kita lebih sedikit dari kemarin. Agar besok, saat saya lulus dan bekerja, saya bisa sedikit meringankan beban di pundak Bapak yang makin membungkuk itu. ‎Saya menutup mata sebentar. Suara hujan yang membasahi genteng di luar terdengar sendu.

‎Besok pagi saya harus kuliah, lalu lanjut rapat di berbagai organisasi, lalu lanjut ngerjain tugas kecil-kecilan, diakhiri dengan istirahat deh. Lelah? Pasti. Tapi seperti kata Albert Camus yang sering saya baca ulang yaitu

“One must imagine Sisyphus happy.”

Kita harus membayangkan Sisifus bahagia mendorong batunya. ‎Batu saya adalah harapan keluarga. Dan malam ini, saya masih kuat mendorongnya, setidaknya satu inci lagi.

Jujur yang saya rasakan ini adalah fase yang aneh. Rasanya seperti sedang menatap layar terminal yang penuh dengan pesan warning kuning dan merah, tapi saya tetap memencet tombol “Run” berulang kali.

Saya tidak membandingkan atau mencela hidup dan pengalaman saya sendiri. Hanya sedang mengartikulasikan apa yang ada di dalam benak ini… Tidak untuk “mendang-mending” atau menjadi “sipaling-apalah itu”.

Saya menyebut diri saya seorang “Nihilis Aktif” sebuah istilah keren yang saya comot dari buku-buku Nietzsche atau diskusi pinggir jalan, sekadar untuk menenangkan diri. Premisnya sederhana: “Hidup ini tidak ada makna bawaan, jadi santai saja, tidak usah terlalu serius.”

Di atas kertas, mungkin filosofi itu terdengar gagah. Masuk akal. Logis. Tapi sialnya, sialnya sekali, saat saya sendirian di kamar atau di tengah pikiran yang sedang ngeblank di jam 2 pagi, rasionalitas itu rasanya rontok semua.

Semakin saya belajar tentang AI, semakin saya melihat dunia ini sebagai sistem yang buggy. Saya melihat ketidakadilan di mana-mana, dan itu bukan sekadar error kecil semata, malah seperti core architecture-nya yang memang korup dari sananya. Lihat saja sekeliling. Orang-orang bodoh yang viral dan kaya mendadak, sementara Bapak saya mengabdi puluhan tahun mencerdaskan bangsa dengan gaji yang… ah, sudahlah.

Di mana logikanya? Di mana korelasi linear antara “usaha keras” dan “hasil”? Di situlah saya merasa chaos. Saya diajari di kampus bahwa y = f(x). Hasil adalah fungsi dari input. Tapi di dunia nyata, variabel “orang dalam”, “privilese”, dan “keberuntungan” sering kali punya bobot (weight) yang jauh lebih besar daripada variabel “kompetensi”.

Ini membuat saya marah. Tapi marahnya sunyi. Marah yang cuma bisa saya tumpahkan lewat ketikan yang sok puitis atau desain poster kritik sosial yang saya buat diam-diam.

Saya mencoba bersikap “bodo amat”. Saya mencoba tertawa melihat kekacauan politik atau drama kampus yang tidak penting. Tapi jujur saja, di balik tawa sinis itu, ada kecemasan yang berjalan terus sebagai background process, memakan memori otak saya.

Saya takut.

Takut menjadi medioker. Takut nasib saya hanya akan berakhir menjadi “sekrup” kecil di mesin industri, persis seperti yang sering diperingatkan Marx. Takut bahwa semua buku tebal yang saya baca, semua kodingan yang saya pelajari sampai mata minus bertambah, dan semua lelah di organisasi ini pada akhirnya tidak membawa saya ke mana-mana.

Kadang saya berpikir, “Apa gunanya saya paham ontologi atau epistemologi kalau besok lulus masih bingung cari kerja?” Ada paradoks besar di kepala saya… Saya terlalu yakin pada “takdir yang terkesan agung”, tapi saya mati-matian takut gagal.

Kalau memang hidup ini tidak ada artinya, kenapa dada saya sesak saat melihat teman sebaya sudah punya startup sendiri atau jalan-jalan ke luar negeri? Berarti saya belum benar-benar nihilis, kan?

Saya masih manusia yang haus validasi. Dan mengakui itu rasanya memalukan sekali.

Lalu, di tengah kekacauan tafsir ini, apa yang tersisa?

Mungkin, makna hidup itu bukan sesuatu yang kita temukan di ujung jalan seperti harta karun. Bukan juga sebuah grand theory yang bisa menjelaskan segalanya.

Mungkin, makna hidup itu mirip seperti kita menulis komentar di dalam source code. Kode utamanya mungkin berantakan, sulit dipahami, dan penuh looping yang membosankan.

Tapi kitalah yang memberi catatan kecil di sampingnya:

"# Bagian ini berfungsi untuk menjaga kewarasan (sepertinya)", atau

"# Fungsi ini dijalankan demi senyum kecil Ibu!".

Saya mulai belajar bahwa makna saya saat ini bukanlah untuk mengubah dunia, hmmm itu terlalu muluk dan juga terkesan arogan. Makna saya adalah “bertahan hidup dengan elegan” asik sok keren banget haahaha.

Terus berjuang, begadang mengerjakan proyek, gawean di organisasi, bukan karena saya yakin akan menang, tapi karena itulah satu-satunya cara saya menyatakan bahwa saya masih ada.

Saya menolak menjadi objek pasif.

Saya adalah subjek yang (mencoba) sadar.

Camus bilang, satu-satunya masalah filosofis yang serius adalah bunuh diri.

Dan dengan saya yang masih melek di pagi buta ini, menyeduh kopi, lalu kembali lanjut menatap laptop meski hati rasanya mau meledak karena cemas, itu adalah jawaban saya.

Saya memilih hidup. Saya memilih bertarung dengan chaos ini, meski tahu kemungkinannya kecil. Saya memilih merangkul ketidakpastian ini. Entahlah. Mungkin besok saya cemas lagi.

Mungkin besok saya merasa gagal lagi. Tapi malam ini, di depan baris kode yang belum selesai ini, saya merasa cukup. Cukup menjadi manusia yang bingung, tapi tetap melangkah. Karena diam berarti mati, dan saya sejujurnya belum siap untuk itu.

[END TRANSMISSION]
/// CONNECTION TERMINATED ///