[BEGIN TRANSMISSION]

Semua yang pernah saya tulis di sini, entah itu soal teknologi, feodalisme birokrasi, eksistensialisme, ketenangan batin, dan sebagainya. Saya harap bacalah sebagai hipotesis. Bukan sebagai kesimpulan akhir.

Saya menulis dari posisi yang tidak steril. Lensa saya retak oleh bias kelas menengah yang nanggung, oleh kemarahan pada sistem yang kadang lebih besar dari pemahamannya, oleh kecemasan yang mungkin tanpa sadar menyusup ke dalam kalimat, oleh pehaman dan pengetahuan diri saya yang tidak seberapa. Kalau pakai analogi yang akrab buat saya mungkin seperti dataset kehidupan saya masih amat kecil. Wajar kalau modelnya overfit ke pengalaman diri sendiri.

Dan saya belum cukup tua untuk pura-pura tidak tahu itu.

Ada satu jebakan yang sering menimpa orang yang terlalu sering menulis, rasanya ia mulai jatuh cinta pada gagasannya sendiri. Analisisnya terasa seperti suatu yang sifatnya final dan absolut, padahal masih dalam suatu proses, penuh kesilapan. Saya tidak mau jatuh ke sana, atau setidaknya saya mau sadar kalau sedang jatuh.

Maka saya tidak mengundang Anda untuk setuju. Saya mengundang Anda untuk mencari di mana saya salah.

Kalau argumen saya tentang feodalisme terlalu keras dan melukai nilai kohesi yang ternyata penting, tunjukkan. Kalau pesimisme saya soal teknologi mengabaikan hal-hal yang justru saya lewatkan, tunjukkan juga. Kalau ada logical fallacy yang bersembunyi di balik diksi yang kedengarannya intelek, silakan bongkar.

Saya rasa itu bukanlah serangan, malahanbahan bakar saya.

Yang saya tulis adalah tesis. Tesis tanpa antitesis cuma jadi dogma. Dan saya tidak menulis untuk menambah dogma baru di dunia yang sudah terlalu penuh ini.

Artikel ini ditulis di kamar di tengah-tengah gelapnya malam, ditemani dengan dengung kipas laptop yang kelelahan. Tabik.

[END TRANSMISSION]
/// CONNECTION TERMINATED ///