Saya telah berbicara banyak. Tentang dogma, ketumpulan nalar beserta hal lainnya. Saya tunjuk-tunjuk dari jauh dengan cukup percaya diri seolah-olah posisi saya sebagai pengamat sudah cukup steril untuk membenarkan semua itu.
Tapi malam ini saya kepikiran satu hal yang agak mengganggu rasanya.
Jangan-jangan semua yang saya tulis itu bukan potret realitas tapi malah sebagai cermin besar yang memantulkan bias saya sendiri? Bukan analisis, tapi proyeksi?
Saya yang paling lantang mengecam feodalisme. Saya tulis panjang lebar tentang bagaimana sistem hierarki yang busuk itu menghambat kemajuan, bagaimana senioritas yang tidak berbasis kompetensi itu merusak nalar kolektif. Tapi kemudian saya bertanya:
Sudahkah saya memeriksa sisa-sisa feodalisme dalam diri saya sendiri?
Karena jujur… Ada kalanya saya berbicara dengan nada yang tidak memberi ruang. Ada kalanya saya menyampaikan gagasan bukan sebagai tesis yang terbuka, tapi sebagai putusan yang menunggu diamini. Saya ingin “membebaskan nalar orang lain,” tapi tanpa sadar mungkin saya sedang membangun otoritas baru di atas puing otoritas lama. Saya ganti Bapak lama dengan Bapak yang lebih muda, lebih fasih mengutip referensi, tapi tetap menuntut kepatuhan. Hanya saja, kali ini pada logika versi saya.
Saya rasa itu bukan pembebasan, cuma renovasi kandang bahasannya.
Lalu soal dogma. Saya habiskan banyak paragraf untuk mengecam orang-orang yang berpikir tertutup, yang tidak mau diuji argumennya, yang berlindung di balik tradisi atau otoritas tanpa mau mempertanyakannya. Tapi kemudian saya sadar sesungguhnya”nalar kritis” dan “logika materialis” yang saya agung-agungkan itu, apakah sudah saya perlakukan sebagai alat? Atau sudah menjadi berhala?
Karena ada titik di mana saya mulai merasa lebih nyaman mengritik kepercayaan orang lain daripada mempertanyakan keyakinan saya sendiri. Ada titik di mana saya mulai memandang orang yang menempuh jalan spiritual atau tradisi berbeda sebagai orang yang “belum sampai” seolah saya yang sudah di ujung, seolah kerangka saya adalah kerangka yang paling benar.
Itu persis definisi fanatisme sendiri hanya kali ini berbalut kosakata yang lebih akademis, lebih teknis.
Ada juga hal lain yang lebih personal dan jujur lebih sulit saya akui.
Selama ini saya membedah sistem, institusi, manusia-manusia di dalamnya dan dalam proses itu, saya sering memperlakukan mereka sebagai objek. Birokrat yang korup, guru yang tidak kompeten, rakyat yang “belum kritis” mereka muncul di tulisan saya sebagai karakter dalam analisis, bukan sebagai manusia utuh yang juga sedang berjuang, yang juga terjebak dalam sistem yang sama, yang juga punya luka dan keterbatasan yang tidak saya ketahui.
Pisau analisis tanpa welas asih rasanya tidak membedah malahan hanya melukai saja.
Dan saya tidak yakin saya selalu ingat itu ketika sedang menulis dengan penuh semangat.
Yang paling mengganggu sebetulnya adalah jarak antara kontemplasi dan evaluasi.
Kontemplasi itu mudah bahkan memabukkan. Duduk sendiri, merenungkan sesuatu, merasa semakin dalam, merasa semakin paham. Tapi perenungan yang berputar dalam kepala sendiri tanpa gesekan dari luar bisa menjadi sangat berbahaya. Tidak adanya sifata koreksi hanya semata-mata mengkonfirmasi. Semakin lama bukan semakin jernih, tapi semakin tebal dindingnya!
Evaluasi yang jujur butuh sesuatu yang tidak nyaman. Seperti sudut pandang yang berlawanan, data yang menampar asumsi, orang yang berani bilang “kamu salah di sini, dan ini alasannya.” Saya tidak ‘selalu’ membuka ruang itu. Saya menulis, saya publish, saya tunggu respons tapi di dalam, ada bagian kecil yang lebih berharap diaminkan daripada dikoreksi.
Itulah jujurnya.
Dan ini yang paling berat sebetulnya, ilmu yang tidak mengubah sikap adalah ilmu yang mati.
Saya sudah tahu kalimat itu sejak lama. Tapi rupanya mengetahui dan menjalani adalah dua hal yang sangat berbeda, sangat berbeda dan jarak di antara keduanya lebih lebar dari yang saya kira.
Analisis saya mungkin sudah cukup mempertajam cara berpikir. Tapi cara bersikap? Saya tidak yakin. Ada kalanya pengetahuan justru membuat saya lebih keras, bukan lebih bijak. Lebih cepat menghakimi, bukan lebih sabar memahami. Lebih percaya diri dalam berargumen, tapi kurang hati-hati dalam memilih kata yang tidak melukai kata yang lebih lembut dan netral.
Gap yang nyata saya rasakan, saya tidak bisa terus pura-pura tidak melihatnya.
Jadi tulisan ini bukan resolusi. Saya tidak sedang mengumumkan bahwa saya akan berubah mulai hari ini, karena pengumuman semacam itu sendiri sudah terasa seperti pertunjukan.
Tulisan ini saya sandarkan sebagai pengakuan.
Bahwa ada jarak antara apa yang saya tulis dan apa yang saya jalani. Bahwa cermin yang saya gunakan untuk melihat dunia itu mungkin kotor di sisi-sisi tertentu yang belum saya sadari. Bahwa menjadi “pencari kebenaran” bukan gelar yang bisa saya pasang sendiri, sesuatu yang harus dibuktikan setiap harinya, entah dalam keputusan kecil, dalam cara saya berbicara kepada orang, dalam kesediaan saya untuk sungguh-sungguh mendengar ketika seseorang mengoreksi saya.
Gap itu perlu saya urus. Pelan-pelan. Tanpa perlu dideklarasikan selalu.
/// CONNECTION TERMINATED ///